Dolan ke Solo - Solo Tourism Blog
nav-left cat-right
cat-right

Solo City Jazz 2009

Yovie Widianto Fusion

Pasar Windujenar yang terkenal sebagai pasar barang antik, malam itu dipenuhi pengunjung yang kebanyakan berpakaian batik. Di depan pasar itu sudah berdiri sebuah panggung yang digunakan sebagai tempat pertunjukan Solo City Jazz (SCJ) 2009.  Acara yang baru pertama kali digelar di Solo ini sengaja memilih tema “Jazz Up Batik”, untuk mengkolaborasikan musik jazz dengan salah satu bentuk kebudayaan lokal Solo, yakni batik. Pergelaran gratis ini dikemas dengan cukup merakyat, agar musik jazz bisa diapresiasi oleh kalangan masyarakat yang lebih luas, tua maupun muda, jelata maupun kalangan atas.

Masmo dari band Notturno

Kelompok musik Notturno membuka gelaran Solo City Jazz hari pertama, Jumat (4/12), dengan lagu dari band Nirvana, “Smell Like Teen Spirit” yang diaransemen dengan irama jazz yang easy listening. Latar belakang yang berbeda-beda dari para anggotanya menjadikan musik dari Notturno lebih kaya, ada irama funk dan rock yang menyusup dalam musik jazz.

I Wayan Sadra & Sono Seni Ensamble

I Wayan Sadra & Sono Seni Ensamble hadir membawakan nuansa etnik dalam musik jazz. Kelompok musik asal Solo ini mengkolaborasikan alat musik tradisional dan modern. Kelompok yang terbentuk tahun 1998 ini berusaha menjembatani antara aliran mainstream dengan kontemporer. Musiknya unik, namun para pengunjung Solo City Jazz memberikan apresiasi yang baik terhadap kelompok musik ini.

Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun (2D)

Selanjutnya ada Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun (2D) dengan iringan musik dari Maya Hasan & Tiwi Sakuhachi Quartet. Deddy Dhukun sangat cair membangun suasana dengan para pengunjung, beberapa kali dia melempar joke dan turun dari panggung mengajak pengunjung untuk bernyanyi bersama. Tembang-tembang lawas dari 2D seperti “Melayang”, “Keraguan”, dan “Masih Ada” menghadirkan romansa nostalgia tahun 80an di panggung Solo City Jazz. Sing along pun terjadi selama penampilan 2D. Selesai mengiringi 2D, Maya Hasan & Tiwi Sakuhachi Quartet masih tampil membawakan membawakan musik-musik fusion seperti “Magnificent Seven” karya Maya Hasan sendiri.

Akordeon Feat. Sruti Respati

Akordeon yang digawangi oleh Bintang Indriyanto, pada kesempatan ini membawa dua bassis ekstra, yakni Roedyanto Warsito (Emerald) dan Rindra (PADI). Meskipun nama kelompok ini adalah Akordeon, tapi sama sekali tak ada pemain akordeon di dalamnya. Ketiga bassis ini membangun musik jazz dengan memasukkan suara kendang dan rebab, ditambah suara sinden Solo, Sruti Respati. Sruti menyanyikan beberapa lagu, antara lain “Ole Olang” dan “Walang kekek”.

Donny Suhendra dan Agam Hamzah yang tergabung dalam Magnificent Duo juga hadir di gelaran Solo City Jazz. Dua gitaris gaek ini berhasil membius pengunjung melalui petikan-petikan gitar yang merdu dan menghanyutkan. Mereka memainkan lagu-lagu karya Chick Corea seperti “La Fiesta” dan “Spain”.

Donny Suhendra Project masih tampil mengiringi Ivan Nestorman dan Andien. Ivan Nestorman yang biasa mengusung world music dengan nuansa Flores, malam itu membawakan lagu “Life Goes On” yang lirik dan judul lagunya diterjemahkan menjadi bahasa Jawa “Ora Usah Mlayu”. Penyanyi asal Flores bernyanyi dalam bahasa Jawa, hanya ada Solo City Jazz.

Andien

Gelaran Solo City Jazz hari pertama ditutup oleh suara lembut Andien yang pada malam itu membawakan lagu “Roxanne” dari The Police, “Tentang Aku”, dan “Bimbi”.

Pada hari Sabtu (5/12), hari kedua gelaran Solo City Jazz, hujan mengguyur Kota Solo, namun hal itu tidak menyurutkan pengunjung untuk tetap menikmati musik jazz. Saat hujan mulai mereda, jumlah pengunjungnya pun lebih membludak.

Malam kedua tampil Solo Jazz Society bersama Temperente Percussion, Clorophyl, Heaven on Earth, Prabumi Jazz Etnik, dan Yovie Widianto Fusion.

Yovie Widianto Fussion tampil sebagai penutup gelaran Solo City Jazz 2009. Band yang menjadi side project dari Yovie Widianto diluar Kahitna dan Yovie & Nuno ini memainkan sejumlah komposisi fusion progressive.

Sekitar 2000 pengunjung hadir setiap malam untuk menyimak Solo City Jazz, dari jam 19.30 hingga 01.00 WIB. Wali Kota Surakarta, Joko Widodo berharap, pergelaran musik Solo City Jazz dapat dilakukan setiap tahun di Solo. Selain untuk mempromosikan Kota Solo, acara tersebut juga bertujuan untuk menunjukkan spirit kota ini sebagai kota budaya.

Sampai jumpa lagi di Solo City Jazz 2010 !!!

8 Comments »

  1. avatar nav-left

    [...] This post was mentioned on Twitter by Dony Alfan Sutanto and Dony Alfan Sutanto, cakhend. cakhend said: foto @masmo123 gede banget kyk pianis papan atas http://dolankesolo.info/2009/12/solo-city-jazz-2009/ [...]

    nav-left
  2. avatar nav-left

    Mantapp…..moga2 taon depan dapat terselengara lagi dan lebih merakyat. Karena dilihat animo masyarakatnya luar biasa bagus!
    Ijin Copas mas. Thx

    nav-left
  3. avatar nav-left

    aku gak nonton Andien…hufh..gara2 acara molor..kaya karet…tapi so far…acaranya bagus…moga tahun depan ada lagi…SCJ 2010…*ngarep

    nav-left
  4. avatar nav-left

    nice pors….nice blog…

    keep writing….

    nav-left
  5. avatar nav-left

    sayang seribu kali sayang… kuping ini tak terjangkau publikasi sebelum showtime… anyway, 2 thumbs! boljug ditiru oleh kota lain…

    nav-left
  6. avatar nav-left

    wah kebetulan saya juga dateng mas pas acara Solo Jazz City, rame banget mas……
    semoga ini bisa menjadi barometer perkembangan disolo

    nav-left
  7. avatar nav-left

    [...] dari band beraliran jazz, Notturno, sedang memainkan pianika di acara Solo City Jazz pada bulan Desember 2009 yang lalu. Di band ini Masmo biasa memainkan piano, fender rhodes, organ, [...]

    nav-left
  8. avatar nav-left

    Jadi ingin ke Solo, coba kalo ada gelaran seperti ini di Bandung. :(

    nav-left

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment