
Melestarikan kebudayaan bukan hanya tanggung jawab dari pihak yang melakoninya saja, namun segenap masyarakat harus berperan serta aktif dalam hal tersebut. Peran serta yang bagaimana, tentu saja sebatas kemampuan masing-masing. Indonesia telah lama mashyur akan keanekaragaman budayanya, seni tari termasuk salah satu diantaranya. Beragam seni tari dapat dijumpai di Indonesia, boleh dikatakan bahwa tiap daerah memiliki seni tari khas daerah masing-masing.
Seni tari adalah bahasa yang universal, kalau di Surakarta orang-orang mengenal tari gambyong, di Jakarta/Betawi tari jaipong, maka di eropa orang akrab dengan balet. Kesemua jenis tarian tersebut sama-sama berusaha mengkomunikasikan sebuah tema yang diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Hanya dibutuhkan kolaborasi antara mata dan hati saja untuk dapat menikmati bahasa yang universal tersebut.
Hari Tari Internasional pertama kali diperingati pada tahun 1982 oleh International Dance Community (IDC) sebuah lembaga di bawah International Teater Institut yang merupakan bagian dari Badan PBB Unesco. Tanggal 29 April dipilih sebagai penghargaan terhadap seniman balet asal Perancis Jean George Noverre, yang dilahirkan 29 April 1727 atas jasanya melakukan pembaharuan di dunia tari.
Untuk memperingati Hari Tari Internasional Internasional 2009, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menggelar pementasan tari 24 jam non stop. Ratusan seniman, baik seniman tradisi dari berbagai daerah maupun seniman akademi sekolah seni bakal terlibat dalam pagelaran yang bertemakan 24 Jam Menari tersebut. Acara ini berlangsung Rabu (29/4) pukul 06.00 WIB hingga Kamis (30/4) pukul 06.30 di kampus ISI Solo. Beragam kesenian tari daerah Indonesia dipertunjukkan tanpa jeda. Lokasi pertunjukan menggunakan seputar kampus ISI Solo.








April 30th, 2009 at 5:32 pm
halo kang mas the Great ! salam kebudayaan !
sampeyan yo iso nari po ? hehehehe….
aku dadi kelingan jaman SD biyen, omahku isih dari sanggar tari, mau gak mau yo dikon nari.
kemaren, banyak kawula muda yang datang gak mas ?
April 30th, 2009 at 7:59 pm
wahh… mantaapphh!
tapi sayang kemaren kagak sempet nonton,
coba pagelarannya di UMS, pasti dah aku pantengin dari pagi sampe pagi lagii..
June 27th, 2009 at 9:58 am
saya ingat, ketika solo menjadi kuat dengan hidupnya seni di kalangan seniman kecil, lokal, individu. namun ahir-ahir ini menjadi hancur karena hampir semua event seni di solo di “international-kan” apa maunya? sebagai seniman merasa ini adalah ruang penyempitan dan pengkotakan kreativitas. seni hanya menjadi wacana yang selalu besar, wah, dll tapi isinya??? mereka yang tahu. semoga solo menjadi kota yang berbudi dengan seni.