Dolan ke Solo - Solo Tourism Blog
nav-left cat-right
cat-right

WAYANG ORANG SRIWEDARI

Selain surga bagi wisata kuliner, sebagai kota budaya kota Solo tentu saja juga memiliki beragam stok wisata budaya. Salah satu wisata budaya di kota Solo yang dapat dinikmati setiap malam adalah pertunjukan kesenian wayang orang. Anda tinggal mengunjungi Gedung Wayang Orang yang berada di komplek Taman Hiburan Rakyat Solo. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup siapkan uang Rp.3000,00 maka anda sudah bisa menyaksikan totalitas para pemain dalam memerankan tokoh-tokoh pewayangan. Pertunjukan dimulai pukul 20.30 WIB sampai selesai. Durasi pentas wayang orang ini tergantung dengan lakon apa yang sedang dimainkan. Jangan khawatir soal perut anda, karena di seputar gedung pertunjukan anda juga bisa membeli cemilan ndeso macam kacang godok, telo godok, gedang godok, dan lain-lain untuk menemani anda menikmati pertunjukan. Di dalam gedung ini, Anda juga tidak perlu takut kegerahan, karena sudah dilengkapi penyejuk ruangan alias AC.

Telah lama pertunjukan wayang orang ini menjadi agenda rutin komplek THR Solo. Wayang orang Sriwedari pernah mengalami masa jaya pada sekitar tahun 70-an. Namun sekarang jumlah pengunjung tinggal dapat dihitung dengan jari, meski begitu hal tersebut tidak menyurutkan semangat para seniman wayang orang tersebut untuk total memainkan perannya. Totalitas disini dapat kita lihat dari tata panggung, tata lampu, kostum, serta akting para pemain yang terlihat bagus dan tertata dengan rapi.

Jadi bagi anda yang sedang merencanakan atau malah sudah berada di kota Solo, segera saja masukkan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dalam daftar tempat yang harus anda kunjungi. Mari kita lestarikan kebudayaan kita sendiri sebelum dilakukan oleh orang lain.

Teks & Foto : Sigit Nugroho

Sepinya penonton tidak menyurutkan para pemain untuk berkesenian

Akting yang total dari para pemain disetiap pementasan

15 Comments »

  1. avatar
    Andri Kusuma Harmaya Says:
    nav-left

    Aku sebenarnya suka wayang mas Dony..Tp entah kenapa aku lebih suka wayang kulit.Untuk wayang orang memang kurang bisa menikmati..Kebiasaan dari kecil kali ya..hehe..Wah,blognya bagus mas Dony.Tetep semangat yaa.. ^_^

    nav-left
  2. avatar nav-left

    Waktu aku masih SMP pernah manggung di Sriwedhari ini, nari Bondan he he! Interiornya hebat masih sama dengan yang dulu …

    nav-left
  3. avatar nav-left

    wah, kok saya gak tau ya kalo ada wayang orang di THR itu. Padahal dulu sering lewat (aja) kekekekeh..
    eniwei, saya suka wayang orang. dulu pernah 2 kali nonton di keraton jogja waktu nemenin teman bule yang maen ke jogja.
    Insya Allah mo main ke THR Solo n nonton wayang orang ini. Tiap hari kan?

    nav-left
  4. avatar
    Dony Alfan Says:
    nav-left

    @ Try – Iya mbak, pertunjukannya setiap hari. Dan ceritanya selalu berlainan, kadang juga ceritanya bersambung dari hari ke hari.
    Oke, kita tunggu di Solo

    nav-left
  5. avatar
    ankusnanto.multiply.com Says:
    nav-left

    solo melek budaya !
    masih mending lah, paling ga masih ada yg peduli. pertunjukan masih ada tiap hari, gedungnya masih pake ac, yg bisa bikin nyaman pengunjung…
    lha kl di sby? di THR sby yg juga biasa mentasin kesenian2 rakyat, boro2 AC, kursinya aja boncel2. pertunjukan cuma sabtu-minggu, itupun gantian antara ludruk, wayang wong atau ketoprak…

    http://galeri-imaji.blogspot.com/2007/07/cerita-tandak.html

    nav-left
  6. avatar nav-left

    sedihnyaaaaaaa lihat postingan ini.
    wayang orang di surabaya (ludruk) sudah kukut alias gulung tikar.
    tragis ya, karena sudah tidak ada pemitnatnya, juga tidak ada penerusnya….

    nav-left
  7. avatar
    zainuddinjambi Says:
    nav-left

    Dulu tahun 90-an aq pernah ke solo. Tapi sekarang udah ngak ingat lagi…

    Yg aq ingat kalo pas muharam ada sekatenan…..

    Salam kenal aja ya

    nav-left
  8. avatar nav-left

    god. Kotaku ayo terus dipertahankan budayanya, jangan sampai luntur…

    nav-left
  9. avatar nav-left

    kemaren gue abis nonton sama Komunitas Tangan DiAtas, Kuantum Hati, Kopma UNS, sama pendengar gue (begonya gue ngasih taunya udah jam 5-an gitu nggak dari beberapa hari sebelumnya … padahal yang berminat banyak banget, rata2 ngga nonton karena nggak ada temen.

    Gue ingin membuat campaign acara2 beginian (wayang kulit, ketoprak, museum, etc etc)plus lumayan diuntungkan dengan media gue di dunia percongoran.

    Orang sipil kaya elo yang mau nulis beginian lebih berguna daripada para ignorant idiots yang udah bejibun jumlahnya.

    nih hasil jepret – jepret kemaren

    http://adiaprabowo.multiply.com/photos/album/72/Ngajakin_Nonton_Wayang_Orang_Is_My_Personal_Jihad_?replies_read=57

    nav-left
  10. avatar nav-left

    Saya pernah nonton pentas Rama Shinta di Prambanan bulan lalu. Harga tiketnya jauuuh banget berbeda dengan pentas Sriwedari ini Pak ^^;;
    Tiket yang paling murah saja harganya 50rb. Untuk VIP, bisa 200rb. Dengan tiket yang mahal itu saja penontonnya banyak sekali, minimal 500an orang.

    Mungkin promosinya saja yang kurang. Terus dipromosikan aja lewat blog Pak, semoga banyak yang tertarik menonton :)

    nav-left
  11. avatar nav-left

    nah ini yg kayaknya aku gak bakal suka…
    secara dr dulu gak tau kenapa gak doyan nonton wayang…hehehe maafkan..bukan gak suka budaya negara sendiri

    nav-left
  12. avatar nav-left

    Baru tanggal 26 Desember yang lalu saya berkesempatan nonton WO Sriwedari. Luar biasa. Betul-betul total.
    Kebetulan tempo hari lakonnya adalah “Gathotkaca Wuyung”, yang kurang lebih bercerita tentang Gathotkaca yang kasmaran dengan Pergiwa, salah satu dari putri kembar (adik kembarnya bernama Pergiwati) anak dari Arjuna.
    Perilaku mas Gathot yang jatuh cinta ini membuatnya kehilangan ‘kewarasannya’–Gathotkca dikenal sangat patuh dan ajeg dengan segala perintah. Dan perilaku kehilangan kewarasan ini benar-benar dapat dirasakan dari lakon-lakon yang dijalani dengan penuh kesungguhan dari para pemain.
    Ada tiga hal yang menyentuh saya ketika menyimak keseluruhan performance WO Sriwedari ini:
    1. Tiket yang ‘luar biasa’, Rp. 3.000,- per pertunjukan. Entah bagaimana caranya mengkonversikan totalitas keseluruhan elemen pertunjukan dengan nominal ini.
    2. Regenerasi. Entah sampai kapan lakon Pergiwa-Pergiwati–yang idealnya adalah sosok perempuan muda–diperankan oleh pemain yang, mohon maaf, sudah agak berumur. Walaupun saya tetap mengagumi pasangan pemain wanita yang menjadi Pergiwa-Pergiwati yang tempo hari saya lihat: tidak kehilangan keluwesannya, tetap kenes, dan cerdas.
    3. Udara AC yang membaur dengan asap rokok. Entah sampai kapan salah satu space di THR Sriwedari untuk menggelar pertunjukan WO ini dapat bertahan, pun penontonnya–saya rasa tidak hanya saya saja–yang terganggu dengan fakta ini. Sangat mengurangi kenikmatan menonton. Terutama adegan Gathotkaca yang memanggu Pergiwa di atas paha kirinya, demi membuktikan cintanya kepada sang wanita. Sungguh menggugah.
    Jaya terus WO Sriwedari.

    nav-left
  13. avatar nav-left

    bagus banget….

    nav-left
  14. avatar nav-left

    Di Semarang masih ada pementasan wayang orang oleh Grup Ngesti Pandowo, salah satu grup wayang orang yang cukup berumur selain Sriwedari. Setiap malam minggu mulai jam 7 malam di gedung TBRS

    nav-left
  15. avatar
    KangMas yon yon/ GIYONO Says:
    nav-left

    Aku sering pada waktu dulu nonton wayang kulit,wayang orang dan ketoprak di Balekambang ,tapi sekarang karena pekerjaanku di Unilever pabrik Cikarang kegiatan itu tidak pernah lagi,padahal aku kangen sekali masa-masa itu untung ada blog mas doni ini serasa sedikit mengobati semoga tetap eksis slalu……

    nav-left

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment