Selain surga bagi wisata kuliner, sebagai kota budaya kota Solo tentu saja juga memiliki beragam stok wisata budaya. Salah satu wisata budaya di kota Solo yang dapat dinikmati setiap malam adalah pertunjukan kesenian wayang orang. Anda tinggal mengunjungi Gedung Wayang Orang yang berada di komplek Taman Hiburan Rakyat Solo. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup siapkan uang Rp.3000,00 maka anda sudah bisa menyaksikan totalitas para pemain dalam memerankan tokoh-tokoh pewayangan. Pertunjukan dimulai pukul 20.30 WIB sampai selesai. Durasi pentas wayang orang ini tergantung dengan lakon apa yang sedang dimainkan. Jangan khawatir soal perut anda, karena di seputar gedung pertunjukan anda juga bisa membeli cemilan ndeso macam kacang godok, telo godok, gedang godok, dan lain-lain untuk menemani anda menikmati pertunjukan. Di dalam gedung ini, Anda juga tidak perlu takut kegerahan, karena sudah dilengkapi penyejuk ruangan alias AC.
Telah lama pertunjukan wayang orang ini menjadi agenda rutin komplek THR Solo. Wayang orang Sriwedari pernah mengalami masa jaya pada sekitar tahun 70-an. Namun sekarang jumlah pengunjung tinggal dapat dihitung dengan jari, meski begitu hal tersebut tidak menyurutkan semangat para seniman wayang orang tersebut untuk total memainkan perannya. Totalitas disini dapat kita lihat dari tata panggung, tata lampu, kostum, serta akting para pemain yang terlihat bagus dan tertata dengan rapi.
Jadi bagi anda yang sedang merencanakan atau malah sudah berada di kota Solo, segera saja masukkan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dalam daftar tempat yang harus anda kunjungi. Mari kita lestarikan kebudayaan kita sendiri sebelum dilakukan oleh orang lain.
Teks & Foto : Sigit Nugroho
Sepinya penonton tidak menyurutkan para pemain untuk berkesenian
Akting yang total dari para pemain disetiap pementasan










June 12th, 2008 at 7:53 am
Aku sebenarnya suka wayang mas Dony..Tp entah kenapa aku lebih suka wayang kulit.Untuk wayang orang memang kurang bisa menikmati..Kebiasaan dari kecil kali ya..hehe..Wah,blognya bagus mas Dony.Tetep semangat yaa.. ^_^
June 26th, 2008 at 10:10 pm
Waktu aku masih SMP pernah manggung di Sriwedhari ini, nari Bondan he he! Interiornya hebat masih sama dengan yang dulu …
July 1st, 2008 at 8:43 am
wah, kok saya gak tau ya kalo ada wayang orang di THR itu. Padahal dulu sering lewat (aja) kekekekeh..
eniwei, saya suka wayang orang. dulu pernah 2 kali nonton di keraton jogja waktu nemenin teman bule yang maen ke jogja.
Insya Allah mo main ke THR Solo n nonton wayang orang ini. Tiap hari kan?
July 2nd, 2008 at 5:26 am
@ Try – Iya mbak, pertunjukannya setiap hari. Dan ceritanya selalu berlainan, kadang juga ceritanya bersambung dari hari ke hari.
Oke, kita tunggu di Solo
July 2nd, 2008 at 7:57 am
solo melek budaya !
masih mending lah, paling ga masih ada yg peduli. pertunjukan masih ada tiap hari, gedungnya masih pake ac, yg bisa bikin nyaman pengunjung…
lha kl di sby? di THR sby yg juga biasa mentasin kesenian2 rakyat, boro2 AC, kursinya aja boncel2. pertunjukan cuma sabtu-minggu, itupun gantian antara ludruk, wayang wong atau ketoprak…
http://galeri-imaji.blogspot.com/2007/07/cerita-tandak.html
August 27th, 2008 at 10:18 am
sedihnyaaaaaaa lihat postingan ini.
wayang orang di surabaya (ludruk) sudah kukut alias gulung tikar.
tragis ya, karena sudah tidak ada pemitnatnya, juga tidak ada penerusnya….
October 10th, 2008 at 9:20 am
Dulu tahun 90-an aq pernah ke solo. Tapi sekarang udah ngak ingat lagi…
Yg aq ingat kalo pas muharam ada sekatenan…..
Salam kenal aja ya
November 14th, 2008 at 7:01 am
god. Kotaku ayo terus dipertahankan budayanya, jangan sampai luntur…
November 22nd, 2008 at 11:06 pm
kemaren gue abis nonton sama Komunitas Tangan DiAtas, Kuantum Hati, Kopma UNS, sama pendengar gue (begonya gue ngasih taunya udah jam 5-an gitu nggak dari beberapa hari sebelumnya … padahal yang berminat banyak banget, rata2 ngga nonton karena nggak ada temen.
Gue ingin membuat campaign acara2 beginian (wayang kulit, ketoprak, museum, etc etc)plus lumayan diuntungkan dengan media gue di dunia percongoran.
Orang sipil kaya elo yang mau nulis beginian lebih berguna daripada para ignorant idiots yang udah bejibun jumlahnya.
nih hasil jepret – jepret kemaren
http://adiaprabowo.multiply.com/photos/album/72/Ngajakin_Nonton_Wayang_Orang_Is_My_Personal_Jihad_?replies_read=57
November 24th, 2008 at 3:36 am
Saya pernah nonton pentas Rama Shinta di Prambanan bulan lalu. Harga tiketnya jauuuh banget berbeda dengan pentas Sriwedari ini Pak ^^;;
Tiket yang paling murah saja harganya 50rb. Untuk VIP, bisa 200rb. Dengan tiket yang mahal itu saja penontonnya banyak sekali, minimal 500an orang.
Mungkin promosinya saja yang kurang. Terus dipromosikan aja lewat blog Pak, semoga banyak yang tertarik menonton
November 28th, 2008 at 6:04 pm
nah ini yg kayaknya aku gak bakal suka…
secara dr dulu gak tau kenapa gak doyan nonton wayang…hehehe maafkan..bukan gak suka budaya negara sendiri
December 31st, 2008 at 2:25 am
Baru tanggal 26 Desember yang lalu saya berkesempatan nonton WO Sriwedari. Luar biasa. Betul-betul total.
Kebetulan tempo hari lakonnya adalah “Gathotkaca Wuyung”, yang kurang lebih bercerita tentang Gathotkaca yang kasmaran dengan Pergiwa, salah satu dari putri kembar (adik kembarnya bernama Pergiwati) anak dari Arjuna.
Perilaku mas Gathot yang jatuh cinta ini membuatnya kehilangan ‘kewarasannya’–Gathotkca dikenal sangat patuh dan ajeg dengan segala perintah. Dan perilaku kehilangan kewarasan ini benar-benar dapat dirasakan dari lakon-lakon yang dijalani dengan penuh kesungguhan dari para pemain.
Ada tiga hal yang menyentuh saya ketika menyimak keseluruhan performance WO Sriwedari ini:
1. Tiket yang ‘luar biasa’, Rp. 3.000,- per pertunjukan. Entah bagaimana caranya mengkonversikan totalitas keseluruhan elemen pertunjukan dengan nominal ini.
2. Regenerasi. Entah sampai kapan lakon Pergiwa-Pergiwati–yang idealnya adalah sosok perempuan muda–diperankan oleh pemain yang, mohon maaf, sudah agak berumur. Walaupun saya tetap mengagumi pasangan pemain wanita yang menjadi Pergiwa-Pergiwati yang tempo hari saya lihat: tidak kehilangan keluwesannya, tetap kenes, dan cerdas.
3. Udara AC yang membaur dengan asap rokok. Entah sampai kapan salah satu space di THR Sriwedari untuk menggelar pertunjukan WO ini dapat bertahan, pun penontonnya–saya rasa tidak hanya saya saja–yang terganggu dengan fakta ini. Sangat mengurangi kenikmatan menonton. Terutama adegan Gathotkaca yang memanggu Pergiwa di atas paha kirinya, demi membuktikan cintanya kepada sang wanita. Sungguh menggugah.
Jaya terus WO Sriwedari.
February 12th, 2009 at 9:51 am
bagus banget….
March 19th, 2010 at 12:41 pm
Di Semarang masih ada pementasan wayang orang oleh Grup Ngesti Pandowo, salah satu grup wayang orang yang cukup berumur selain Sriwedari. Setiap malam minggu mulai jam 7 malam di gedung TBRS
July 18th, 2010 at 6:02 am
Aku sering pada waktu dulu nonton wayang kulit,wayang orang dan ketoprak di Balekambang ,tapi sekarang karena pekerjaanku di Unilever pabrik Cikarang kegiatan itu tidak pernah lagi,padahal aku kangen sekali masa-masa itu untung ada blog mas doni ini serasa sedikit mengobati semoga tetap eksis slalu……