Dolan ke Solo - Solo Tourism Blog
nav-left cat-right
cat-right

Hari Jadi Kota Solo


Momen Hari Jadi Ke-263 yang jatuh pada Minggu, 17 Februari kemarin dimanfaatkan Pemkot Solo untuk menegaskan komitmennya. Terutama dalam melestarikan budaya Jawa. Semua peserta upacara mulai Walikota sampai tamu undangan mengenakan pakaian adat Jawa, jawi jangkep keprajuritan. Pidato dan seluruh protokoler juga memakai tata cara Jawa. Musik pengiring upacara juga diganti dengan gending-gending Jawa. Pembawa acara yang biasanya menginformasikan urut-urutan acara dalam bahasa Indonesia akan memakai bahasa Jawa. Begitu juga pidato Walikota.

Pada kesempatan itu di-launching pula penggunaan aksara Jawa untuk semua nama instansi, badan hukum dan sekolah baik negeri maupun swasta, serta di pusat-pusat perbelanjaan.

Melestarikan budaya Jawa lewat upacara sebenarnya telah dirintis wali kota sebelumnya. Pada saat Walikota Imam Sutopo semua peserta upacara hari jadi juga mengenakan busana Jawa. Namun saat itu belum sempurna. Ada yang mengenakan sepatu, ada pula yang memakai selop. Bahkan ada ibu-ibu yang tak berkonde dan hanya mengikat rambutnya.

Sejak Jokowi (Ir. Joko Widodo, walikota sekarang) menjabat, dia berusaha menyempurnakan rintisan para pendahulunya. Dalam suatu dialog dengan warga mambahas cagar budaya di kantor sebuah media beberapa waktu lalu Jokowi mengaku tak begitu menguasai masalah budaya. Untuk itu dalam membangun kota ia melibatkan budayawan. Semoga berhasil bos..

© Naskah oleh Megono Sangit
©
Foto oleh Blontank Poer

1 Comment »

  1. avatar nav-left

    kerisi prajurit kok gak podo? ono sing ngiwo-ono sing nengen, lha kerisi mas Dony mengarep opo mengguri?

    nav-left

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment