Sebuah pertunjukan tari kolosal Adeging Praja Mangkunegaran menjadi puncak acara dari peringatan 250 tahun Pura Mangkunegaran yang bertajuk Once in a Lifetime (11/11). Tari yang menggambarkan perjuangan RM Said dan pasukannya melawan tentara kolonial Belanda ini memang benar-benar luar biasa dan terasa hidup. Pasukan berkuda yang berperang di medan pertempuran, diiringi dengan suara gamelan dan perkusi, semakin membuat pengunjung terpesona. Masih ditambah lagi hadirnya dua ekor gajah dengan kostum dan hiasan dalam adegan prosesi Jumengan. Gelaran sendratari kolosal berdurasi dua setengah jam ini mendapat sambutan yang hangat dari sekitar dua ribu tamu undangan yang hadir.
Seni budaya penginggalan Mangkunegaran lainnya juga ditampilkan dalam acara ini, mulai dari Bedaya Suryo Soemirat, hadrah, langendriyan, wayang topeng, wayang orang, prosesi manten tebu, hingga pagelaran wayang kulit dalam bahasa Indonesia. Sayangnya perhelatan besar ini tidak bisa ditonton oleh masyarakat umum secara langsung, yakni karena mahalnya harga tiket, yang dijual dari Rp 300ribu. Masyarakat yang ingin menonton tapi tak mampu membeli tiket hanya bisa menikmatinya dari balik pagar atau dari layar lebar yang telah disediakan.
Sementara pada siang harinya, ribuan warga Solo memadati sejumlah jalan utama yang menjadi rute kirab seni dan budaya. Kirab ini diawali dari lapangan Kota Barat menuju Jalan Dr Moewardi dan menyusuri Jalan Slamet Riyadi kemudian bergerak ke arah Jalan Diponegaro dan berakhir di Pura Mangkunegaran. Pasukan kirab terdiri dari pasukan berkuda, prajurit Sinelir, prajurit Sorogeni, pajurit Ladrang Mangungkung, prajurit Joyowiseso, tari rakyat Turonggo Seto, tari Topeng Ireng Dayakan, dan masih banyak lagi.
Mempertahankan ikon budaya hingga berumur dua setengah abad bukanlah hal yang mudah. Hal itu membutuhkan pastisipasi dan kesadaran dari semua pihak untuk menjaganya, mulai dari Pemerintah dan masyarakat umum, serta para pewaris tahta yang memiliki kepentingan secara langsung.
© Fotografi oleh Adia Prabowo (radio announcer and photographer)








November 26th, 2007 at 9:26 pm
Sesal beribu sesal … saat itu saya berada disolo tapi karena ndak tau ada event ini sebelumnya, saya ndak bikin agenda…saya cuma kebagian macetnya nyaris 2 jam di slamet riyadi…coba kalo tau ada event saya bisa ajak client kesana duh! padahal dia sempet nanyain, dasar akunya yg ketinggalan berita. ko ga di posting info sebelum eventnya ?
November 29th, 2007 at 6:19 am
Maaf beribu maaf mas hiu. Saya tidak kasih info sebelumnya. Tapi sebenarnya promosi dari event ini sudah sering diputar di Metro TV (salah satu media partner), bahkan sekitar 2 bulan sebelum hari H.
December 9th, 2007 at 3:14 pm
Wow….saya terkagum2 dengan foto2nya…pasti lahir dari tangan dingin seorang fotografer handal, begitu juga dengan artikelnya..mantabz nian…mohon diperbanyak artikel dan foto2 tentang Solo, makasih…
December 11th, 2007 at 12:34 pm
aku langsung ge er!! hehehe!!
April 28th, 2008 at 4:27 am
Saya baca artikel ttg Pagelaran ini di salah satu majalah mingguan. Ah…andai saya ada di sana yaaaa.
Foto2nya baguuuus!
July 4th, 2008 at 7:08 am
met ultah mangkunegaran.sayang bgt pas ultah gue lg di jkt
February 27th, 2009 at 7:35 pm
saya salut dan bangga menyaksikannya, semoga hal ini bisa dikembangkan lagi menjadi sebuah event yang didukung secara regional kawasan…
mongkok hati saya…
March 1st, 2009 at 6:39 am
semoga solo semakin berjaya, dan foto serta informasi harga makan hingga peta saya kira penting untuk memajukan dolankesolo[dot]info yang bagus nian…