Dolan ke Solo - Solo Tourism Blog
nav-left cat-right
cat-right

Kunjungan Jalansutra Ke Solo

Sabtu (3/3) kemarin rombongan Jalansutra dari Jakarta mengadakan jalan-jalan dan makan-makan di Solo. Tentu saja Pak Bondan Winarno yang terkenal dengan “mak nyus”nya itu juga ikut. Sore hari, rombongan dijamu acara minum teh bersama Raja Mangkunegaran, acara minum teh bersama Raja ini dikenal dengan Royal Tea. Tak cuma itu, rombongan juga diajak tur keliling lingkungan istana, termasuk restricted area yang tak semua orang boleh memasuki.

Malamnya, tentu saja acara makan-makan. Tak lengkap rasanya kalau ke Solo tidak makan nasi liwet khas Solo. Dimulai dari nasi liwet Yu Sani di daerah Solo Baru, nasi liwet ini begitu laris karena rasanya yang enak dan harganya yang murah meriah, dengan 5ribu rupiah anda sudah bisa menikmati nasi liwet dengan suwiran ayam dan telur, plus teh manis. Jadi kalau anda berkunjung terlalu larut, kemungkinan anda tidak dapat jatah lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke daerah Keprabon, rombongan kepingin mencoba merasakan hangatnya wedang dongo / wedang ronde. Daerah ini juga terkenal dengan nasi liwetnya, nasi liwet Bu Wongso Lemu adalah yang paling terkenal bahkan hingga keluar kota. Belum puas dengan hanya “nyicip” nasi liwet Yu Sani, beberapa orang dari rombongan masih tergoda untuk mencoba gurihnya nasi liwet Bu Wongso Lemu, sembari membandingkan rasanya. Pak Bondan mengaku lebih cocok dengan rasa nasi liwet Bu Wongso Lemu, tapi lanjutnya dia lebih suka dengan nasi liwet gendongan yang biasanya dijual di emperan toko. Harga nasi liwet di Keprabon ini memang jauh lebih mahal daripada Yu Sani, satu orang perlu merogoh kocek sekitar 20ribuan.

Perjalanan belum berakhir, dan dilanjutkan di wedangan Pak Kemin di daerah Monumen Pers. Kota Solo memang terkenal dengan Kota seribu wedangan. Kenapa? Karena di setiap sudut Kota Solo banyak dijumpai wedangan-wedangan. Wedangan adalah warung makan berbentuk angkringan yang menyajikan beberapa makanan khas seperti nasi kucing, tempe dan tahu bacem, mendoan, dan lain-lain. Wedangan sendiri diambil dari kata wedang yang berarti minuman hangat. Orang Solo pada umumnya sangat sophisticaded dengan minuman teh, orang Solo dan Jawa pada umumnya lebih menyukai teh ginastel (legi-panas-kentel). Bentuk minuman hangat lainnya khas wedangan adalah wedang tape dan wedang jahe gepuk, yang dijamin bisa menghangatkan tubuh anda. Wedangan sendiri juga dijadikan sebagai sarana serawung (berhubungan sosial) dengan teman dan kerabat, ngobrol ini dan itu (mulai dari hal remeh temeh sampai politik) atau lek-lekan (bergadang) sampai pagi.

Dini hari, rombongan Jalansutra beralih ke gudeg ceker Margoyudan. Warung gudeg ini baru buka pada pukul satu dinihari. Tapi meskipun baru buka dinihari, banyak pengunjung yang yang sudah datang duluan dan menunggu, padahal warungnya belum dibuka. Yang sangat digemari oleh para pengunjung dari warung gudeg ini adalah cakar ayamnya. Jangan kira cekernya akan alot, ceker yang disajikan di warung ini dimasak begitu lama, sehingga begitu masuk mulut langsung moprol (bahasa Indonesia-nya apa ya?). Jadi, tak heran jika ada yang pesan ceker hingga 20 biji, lumayan bisa nambah asupan kalsium. Menu lain yang ditawarkan sebagai “teman” makan gudeg antara lain ati ampela, ayam, tahu bacem, dan saren (darah ayam goreng). Satu hal yang perlu dicatat, warung gudeg ini ramai sekali apalagi di akhir pekan, sehingga anda harus sabar untuk mengantri pesanan dan kadang perlu sedikit berjuang untuk dapat tempat duduk.

Hari Minggu pagi (4/3) rombongan Jalansutra menikmati sarapan di timlo Sastro, di daerah Pasar Gedhe/Mbalong. Dilanjutkan dengan “petualangan” mencari sate kambing.
Pengalaman jalan-jalan dan makan-makan bersama Jalansutra memang tak terlupakan, sejenak kita bisa melupakan asam urat dan kolesterol untuk memanjakan perut. Dua hari untuk menikmati kekayaan kuliner Kota Solo memang tak cukup, makanya kalau sempat harus kembali lagi ke kota ini.

Terima kasih untuk Jalansutra yang sudah berkunjung ke Solo. Sekali jalan-jalan, terus makan-makan!


9 Comments »

  1. avatar
    putri solo Says:
    nav-left

    Waaaah aku dadi pingin mulih ki..
    Thanks ya Don, critane seru, marakake kangen mulih Solo wae kowe ki…:-))

    nav-left
  2. avatar nav-left

    ayo tulis lagi dong info-info seputar makanannya :D

    nav-left
  3. avatar
    wanita keren Says:
    nav-left

    wa ………..wong solo
    jadi inget makan ayam bakar wong solo …heuueue

    nav-left
  4. avatar nav-left

    Ulasan soal Wisata Kuliner di SOlo…dong..kayak Tahu Kupat, Bakmi Toprak,cabuk rambak,Kue Leker,Es buah Pak Min,Sate Buntel,Soto Gading,Tengkleng..dll..

    nav-left
  5. avatar
    ethnicart-indonesia.blogspot.com Says:
    nav-left

    Hai… Aku asli Jatim. Makanannya sptnya enak2 ya… Tampilin gambatnya dong.. biar bisa tau bentuknya spt apa.Aku ora ngerti bentuk’e’ sego kucing + ceker khas sana.

    nav-left
  6. avatar
    febriantoeko Says:
    nav-left

    hai apa kabar, solo kamu mana nih.., masak kalah dengan jogja sih kita , jogja udah ada kumpulan blogger, gimana kalau solo , gimana solo bentuk yup

    nav-left
  7. avatar nav-left

    hm….warung cekernya, kelihatannya banyak penggemar ya. tapi hati-hati kok jualan saren. Muslim nggak boleh makan.

    nice blog review tempat lain dong pak, kalaubisa sekalian status halal nya.

    terimakasih.

    nav-left
  8. avatar nav-left

    saren (darah ayam goreng)

    wah STATUS HALAL harus ada di setiap warung di Solo nih

    Jadi takut makan gw ya
    nah ntu aja yang ketauan, bahan-bahannya gimana?
    Lah warung ngak halal aja terang-terangan pasang NAMAnya!!!!

    thanks infona mba mas

    nav-left
  9. avatar nav-left

    wah mas donny emang TOP BGT.

    don……posting gambar-gambar panganan solo donk,kangen ki karo solo.

    awas yen ora…….tak santet dadi uwong kowe.

    nav-left

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment